dunia jurnalistik

November 6, 2007

My first Published Essay:Sebelum kita melihat keadaan pers mahasiswa saat ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarahnya di masa lalu. Sejarah mencatat, pers mahasiswa yang pertama di Indonesia adalah ‘Indonesia Merdeka’, didirikan oleh Indische Vereeneging, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Karena tumbuh pada zaman kolonial, ia sarat dengan nilai-nilai nasionalisme. Tetapi pada masa pendudukan Jepang, pers mahasiswa mati suri, terbuai janji semu Jepang untuk memerdekakan Indonesia.
Dalam sistem demokrasi liberal di tahun 1950-an, dan di awal masa demokrasi terpimpin, pers mahasiswa kembali bermunculan. Keberadaannya cukup diperhitungkan baik oleh pemerintah maupun rakyat. Bahkan di awal tahun 1970-an, pers mahasiswa sempat mengalami masa keemasan. Sebut saja ‘Mahasiswa Indonesia’, Harian KAMI dan ‘Mimbar Demokrasi’, yang dibaca tidak hanya oleh mahasiswa tetapi juga oleh masyarakat umum. Oplahnya cukup besar, antara 30.000-70.000 eksemplar.
Sayangnya, pasca peristiwa Malari 1974, pers mahasiswa sempat dilarang terbit oleh pemerintah karena dianggap memprovokasi kerusuhan. Keadaan ini diperparah oleh pemberlakuan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) pada 1978. Peraturan tersebut agaknya sengaja dibuat oknum Orde Baru untuk membatasi ruang gerak gerakan kemahasiswaan. Ini berimbas pada pers mahasiswa sebagai salah satu elemennya. Intervensi pemerintah secara berlebihan juga menyebabkan banyak pers mahasiswa yang dibredel; kalaupun masih dibiarkan hidup, isinya seringkali disensor habis.
Tidak hanya mendapat pembatasan dari penguasa negara, pers mahasiswa juga diawasi ketat oleh pihak rektorat universitas. Banyak aktivisnya yang diskorsing atau dipersulit kelulusannya. Tidak heran apabila pers mahasiswa menjadi lembaga yang dihindari oleh mahasiswa sendiri. Pers Mahasiswa di Era Reformasi
Dengan sejarah yang pahit itu, wajar bila sampai saat ini pers mahasiswa masih belum bisa menjadi primadona. Memang keadaan di era reformasi ini lebih kondusif – kebebasan pers mulai bergaung dan teknologi penunjang penerbitan jauh lebih maju dibandingkan era 1950-1970-an. Gerakan kemahasiswaan pun mulai menampakkan kemandiriannya. Namun, menghapuskan trauma masa lalu jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tantangan lain adalah soal SDM (Sumber Daya Manusia). Jarang sekali ada mahasiswa zaman sekarang yang berminat di bidang jurnalistik. Mereka cenderung menganggap dunia jurnalistik tidak dapat membawa kemakmuran di kemudian hari, lagipula pekerjaan jurnalis beresiko cukup tinggi. Lihat saja kasus-kasus penculikan jurnalis yang kerap terjadi.
Realita lain adalah kemalasan mahasiswa kita untuk menulis tulisan ilmiah. Mahasiswa menulis tulisan ilmiah sebatas untuk memenuhi tuntutan perkuliahan saja. Sebenarnya, hal ini berakar dari menurunnya minat baca mahasiswa, karena mustahil seseorang dapat menulis bila tidak rajin membaca. Padahal, bacaan ilmiah yang tersedia sekarang lebih kaya daripada zaman orang tua mereka. Soal harga buku yang mahal, toh bisa disiasati dengan meminjam dari perpustakaan.
Kalaupun kuantitas mahasiswa yang mau terlibat dalam pers mahasiswa sudah terpenuhi, kendala yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan kualitas mereka. Mengkader mahasiswa untuk bisa menulis dengan baik adalah pekerjaan yang melelahkan. Mereka harus sering diminta menulis dan dievaluasi. Hasilnya pun belum tentu signifikan.
Kursus Jurnalisme Sastrawi X
27 May 2006
Kursus ini mengingatkan saya kembali pada disiplin jurnalistik (verifikasi, keseimbangan, faktual, kelengkapan)… melatih saya membangun cerita, mulai dari ide dasar sampai kerangka sehingga saya lebih mudah menerjemahkannya dalam perencanaan produksi televisi
Biasanya saya menulis dan tenggelam dalam rutinitas berita yang hasilnya ‘kering’!
Kursus ini membuat  mataku terbuka dan tertantang menulis dengan hati nurani. Menulis jadi kegiatan yang menggairahkan dan saya bisa  menulis dengan lebih berjiwa. Tidak kering lagi.
Training ini mengubah mimpi saya menjadi kenyataan melatih pekerja NGO untuk menulis pengalaman lapangan menjadi dokumen yang enak dibaca.
Kursus Jurnalisme Sastrawi Angkatan X | 12 – 23 Juni 2006
Pada 1973 Tom Wolfe menerbitkan buku The New Journalism. Dunia jurnalisme Amerika Serikat gempar. Sebuah gerakan muncul. Ia mengawinkan disiplin yang paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat karya sastra. Ibarat novel tapi faktual. Ibarat novel ia mencerahkan. Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemen-elemennya ketika kecepatan televisi memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang lebih dalam. Kini gerakan itu diperkenalkan di Jakarta. Belajar menulis dengan dalam sekaligus memikat.
Pantau mulai kursus ini pada 2001. Peserta awal 15 orang. Jumlah ini dianggap optimal untuk sebuah metode pelatihan yang berlangsung 2 minggu ( 12 sesi) dan tiap sesi diformat santai, semi formal dan peserta bisa berdiskusi secara langsung. Selanjutnya kursus ini berlangsung per semester, tiap Januari dan Juni. Totalnya, Pantau telah menyelenggarakan 9 kali kursus  dengan total peserta 124 orang. 
 

Wajah-wajah Bernas

(Kolom Riswandha Imawan Menyambut HUT ke-54)

Hanyalah media penyampai warta. Pada dasarnya koran hanya diminta untuk menyajikan fakta dan realita. Sedapat mungkin warta yang disampaikan jauh dari unsur penilaian suka atau tidak suka. Interpretasi terhadap fakta dan realita yang disajikan, sepenuhnya berada di tangan dan menjadi tanggung jawab pembaca.

Namun, dalam keseharian nyaris tidak ada koran yang secara sadar atau tidak sadar telah menggiring opini pembaca. Sekalipun sudah ada rubrik khusus untuk penyaluran opini itu, misalnya lewat surat pembaca atau artikel, warta yang disajikan juga tidak lepas dari opini, entah milik si wartawan, redaksi, ataupun kebijakan koran secara menyeluruh.

Mengapa? Setidaknya tiga hal perlu diperhitungkan. Pertama, misi yang dicanangkan oleh koran mencanangkan misi “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kecerdasan tidak mungkin dicapai dengan cara-cara yang dogmatis. Kecerdasan muncul dari jiwa dan kesadaran yang kritis. Dalam konteks inilah opini-opini yang diselipkan ke dalam berbagai warta harus dipahami, yakni berupaya memancing sidang pembaca ke alam pikiran yang kritis.

Kedua, koran adalah media bisnis. Nyaris tidak ada dunia jurnalistik yang bebas dari pengaruh bisnis. Dalam banyak kasus, pemegang saham acapkali menentukan kebijakan jurnalistik sebuah koran. Idealisme insan jurnalis para wartawan, sering terbentur oleh sikap yang diambil para pemegang saham untuk mengamankan modal mereka. Sering berita yang menarik perhatian masyarakat “disarankan” untuk tidak dimuat hanya karena ada hantu pemberangusan oleh kekuatan politik di luar dunia jurnalisme, yang tentu saja identik dengan hilangnya modal usaha.

Sekalipun berita menarik itu disetujui untuk dimuat, beritanya baru diturunkan sehari setelah kejadian. Kalaupun dimuat pada hari yang sama, beritanya dikemas ke dalam kalimat yang sangat halus yang sering menghilangkan makna informasi yang ingin disampaikan.

Ketiga, pangsa pasar yang hendak dituju oleh sebuah koran. Opini ataupun hal-hal yang memiliki dimensi ideologis, biasanya tidak muncul di koran-koran untuk kalangan yang tidak mau dibuat pusing oleh tingkah para elit. Bagi kebanyakan orang (Indonesia) koran lebih dimaknai sebagai “pembunuh waktu”. Iseng-iseng sambil menunggu janji bertemu dengan seseorang, misalnya. Hingga sering muncul problema di sini. Orang lebih suka membeli koran yang banyak halamannya, sekalipun wartanya ringan-ringan saja. Mengapa? Karena secara ekonomis, membeli koran yang banyak halamannya menguntungkan untuk dapat dijual kembali

Bernas hanyalah koran lokal. Oplahnya tidak sehebat koran-koran lain yang lebih mapan. Namun, Bernas memiliki pangsa pasar yang jelas, kaum muda yang dinamis yang ada di kota ini. Itu sebabnya Bernas tidak sekadar berperan mencerdaskan kehidupan bangsa, namun selangkah lebih dari itu, yakni “mencerahkan” wawasan bangsa.

Peran pencerahan ini tampak menonjol ketika kekuasaan Soeharto masih demikian kokoh. Saat itu nyaris tidak ada media yang berani menawarkan diri sebagai wacana bagi para reformis untuk mencerahkan wawasan bangsa. Pada saat ketidakadilan merebak, kekuasaan sedang nyalang menyuarakan kecongkakannya, Bernas berani mengambil sikap korektif yang oleh penguasa saat itu dinilai beroposisi.

Pembelaan Bernas terhadap prinsip-prinsip kehidupan demokratis di saat nilai-nilai demokrasi diinjak-injak, terutama saat Kongres PDI (Pro-Megawati) tahun 1996 di Surabaya, laporan lengkap mengenai Peristiwa 27 Juli 1996 dan sebagainya, demikian menonjol bila dibandingkan dengan media yang ada saat itu. Itu sebabnya, para pengamat asing memposisikan Bernas sebagai koran oposisi.

Konsistensi Bernas tampak jelas dengan pengorbanan wartawannya, Udin. Insan pers yang gigih membongkar borok-borok dalam masyarakat ini harus mati demi sebuah idealisme. Sekalipun pembunuh Udin hingga saat ini belum tertangkap, namun itu tidak menyurutkan semangat rekan-rekannya untuk tegak berdiri di atas prinsip-prinsip yang mereka yakini kebenarannya.

Keberpihakan Bernas kepada kelas menengah-bawah, diwujudkan dengan serangkaian aktivitas yang memungkinkan masyarakat merasa memiliki koran ini. Arena terbuka untuk menonton siaran langsung sepak bola, pasar tiban sampai ke penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam (seperti yang terjadi di Purworejo), merupakan bukti yang tak terbantahkan. Semua dilakukan secara spontan, dan semua mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat. Bukti bahwa mereka merasa Bernas sebagai aset dari sebuah komunitas yang bertitel Wong Yogjo.

kredibilitas Bernas sebagai koran yang berani memelopori upaya pencerahan terhadap bangsa ini. Bernas seakan-akan lupa bahwa yang kala itu mereka bela bukan Megawati, tetapi prinsip-prinsip kehidupan demokratis. Adapun penjegalan terhadap karier politik Megawati hanyalah kasus yang merepresentasikan pelanggaran terhadap prinsip demokrasi.  

Tuesday, March 08, 2005

BAHASA JURNALISTIK INDONESIA

Oleh Goenawan MohamadPENGANTAR

Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor. Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.
Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Jurnalisme

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Jurnalisme adalah bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang, termasuk tren, masalah, dan tokoh. Orang yang mempraktekkan kegiatan jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan.

Di Indonesia, istilah ini dulu dikenal dengan publisistik. Dua istilah ini tadinya biasa dipertukarkan, hanya berbeda asalnya. Beberapa kampus di Indonesia sempat menggunakannya karena berkiblat kepada Eropa. Seiring waktu, istilah jurnalistik muncul dari Amerika Serikat dan menggantikan publisistik dengan jurnalistik. Publisistik juga digunakan untuk membahas Ilmu Komunikasi.

 

dunia manajemen media

November 6, 2007

In50 Orang Terpenting Dalam Dunia Web (01-10)Siapa saja yang memberi pengaruh terbesar dalam jaringan online? Berdasarkan analisis PC World, terdapat tenaga broker Web, blogger, kalangan intelektual, dan pengusaha untuk menemukan kontribusi mengenai siapa yang menentukan cara pemanfaatan layanan Web orang di dunia.Berikut daftar orang-orang penting dan berpengaruh dalam dunia web:1. Eric Schmidt, Larry Page, dan Sergey Brin, Eksekutif Google
Jika harga saham Anda mencapai USD 500 per lembarnya, Anda berarti berhasil mengumpulkan uang sebanyak USD 33 miliar. Anda dapat menjalankan mesin pencari yang paling ramai trafiknya di Internet. Proyek kecil-kecilan Sergey Brin dan Larry Page asal Stanford berkembang menjadi gardu Web yang paling banyak dibicarakan dan salah satu dari beberapa nama pada daftar ini berubah menjadi verba. Schmidt meninggalkan Novell untuk bergabung dalam jajaran direktur Google pada tahun 2001 dan segera menjadi CEO perusahaan itu. Dengan mendominasi dunia periklanan online, Google sepertinya siap melakukan perjalanan akuisisi dan membeli YouTube menandakan langkah besar terhadap dominasi menyeluruh dalam bisnis Web.
2. Steve Jobs, CEO Apple
Tidak ragu lagi Anda pasti bosan dengan penghargaan media seputar aksi CEO Apple ini. Tetapi ketika seseorang mengaplikasikan gema musik gratis DRM ke seluruh dunia, sulit mengacuhkan kekuatan pengaruh pria tersebut. Jobs mempopulerkan download musik, acara TV, dan film secara legal. Melalui iPhone yang akan dirilis dalam waktu kurang dari
lima bulan lagi, demonstrasinya pada MacWorld Expo memberi saran bahwa produk ini kemungkinan mempopulerkan Internet browsing menggunakan perangkat mobile.
Jika harga saham Anda mencapai USD 500 per lembarnya, Anda berarti berhasil mengumpulkan uang sebanyak USD 33 miliar. Anda dapat menjalankan mesin pencari yang paling ramai trafiknya di Internet. Proyek kecil-kecilan Sergey Brin dan Larry Page asal Stanford berkembang menjadi gardu Web yang paling banyak dibicarakan dan salah satu dari beberapa nama pada daftar ini berubah menjadi verba. Schmidt meninggalkan Novell untuk bergabung dalam jajaran direktur Google pada tahun 2001 dan segera menjadi CEO perusahaan itu. Dengan mendominasi dunia periklanan online, Google sepertinya siap melakukan perjalanan akuisisi dan membeli YouTube menandakan langkah besar terhadap dominasi menyeluruh dalam bisnis Web.Tidak ragu lagi Anda pasti bosan dengan penghargaan media seputar aksi CEO Apple ini. Tetapi ketika seseorang mengaplikasikan gema musik gratis DRM ke seluruh dunia, sulit mengacuhkan kekuatan pengaruh pria tersebut. Jobs mempopulerkan download musik, acara TV, dan film secara legal. Melalui iPhone yang akan dirilis dalam waktu kurang dari
lima bulan lagi, demonstrasinya pada MacWorld Expo memberi saran bahwa produk ini kemungkinan mempopulerkan Internet browsing menggunakan perangkat mobile.3. Bram Cohen, Cofounder BitTorrent
Sistem P2P seperti KaZaA dan eDonkey adalah produk tahun lalu. Masa depan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan BitTorrent, penggagas ahli matematika dan anak ajaib dalam dunia pemrograman Bram Cohen. BitTorrent dikembangkan pada 2001 dan mendapatkan popularitas sebagai cara pen-download-an file besar (seperti film) dengan pembagian beban melalui hardware dan bandwidth. Kecakapan teknologi ini menangani file besar membawa Cohen berselisih dengan Motion Picture Association of America, yang meminta BitTorrent memindahkan konten berhak cipta dari jaringannya. Tetapi penarikan itu tidak menghambat kerjanya. Dilaporkan lebih dari sepertiga trafik Web saat ini berasal dari klien BitTorrent. BitTorrent dan kalangan raksasa dunia hiburan sejak lama telah menggabungkan kekuatan mereka. BitTorrent Entertainment Network yang baru saja dilansir mengeluarkan ribuan film standar industri, acara televisi, game, dan lagu-lagu untuk dijual dan disewa.
4. Mike Morhaime, Presiden Blizzard Entertainment
Dalam dunia online gaming, terdapat World of Warcraft, dll. Dengan jumlah pemain sebanyak 8 juta di seluruh dunia, Blizzard meraup keuntungan sebesar USD 1,5 miliar setahun dari WoW. Setiap pemain dengan terengah-engah terus memperhatikan Mike Morhaime bila ada kesempatan untuk mendapatkan Blade of Eternal Justice. Seperti dengan Second Life, keseluruhan bisnis dunia nyata berdasarkan teknologi game. Tidak seperti Second Life, walaupun bisnis ini mengeksploitasi ekonomi dan permainan game WoW, keseluruhannya tidak memberikan sambutan yang baik.
5. John Doerr, Venture capitalist pada Kleiner, Perkins, Caulfield & Byers
Mantan salesman Intel, John Doerr telah menjadi raja aset enterprise di Silicon Valley sejak 27 tahun lalu dan melakukan investasi dalam bisnis teknologi mulai dari Sun Microsystems, Amazon.com, hingga Google. Jeff Bezos (lihat nomor 24) pernah menggambarkan Doerr sebagai “pusat gravitasi Internet.” Doerr juga menyertakan uang untuk menyokong kampanye politik, mendukung inisiatif pemilihan suara negara bagian yang cukup kontroversi di
California terkait energi alternatif, dan penelitian stem-cell.6. Peter Levinsohn, Presiden Fox Interactive Media
Fox Interactive Media, bagian dari News Corporation milik Rupert Murdoch, adalah salah satu unit Web terkuat dan mengendalikan 13 situs dengan jangkauan mulai dari MySpace.com hingga yang paling kontroversial FoxNews.com., pelengkap bagi siaran film tradisional dan properti televisi News Corp. Divisi yang berfokus pada Internet meliputi top 10 properti yang dikunjungi di dunia pada Desember 2006, berdasarkan comScore World Metrix. Menurut TechCrunch, kemungkinan akan terdapat tambahan lainnya, ketika Fox Interactive memiliki USD 2 miliar uang pengakuisisian untuk digulirkan.
7. Marissa Mayer, Vice president Google untuk search products & user experience
Ratu produk Google mengawasi berbagai daftar layanan Web dan perangkat raksasa pencarian ini, seperti Google Maps, Google Desktop, dan Google Base, serupa layanan e-commerce eBay. Wanita nomor satu di Google ini bergabung dalam perusahaan tersebut sebagai insinyur perempuan pertama pada 1999. Ia sebelumnya adalah pegawai perusahaan di nomor Alibaba.com dan bekerja mengembangkan tampilan minimalis Google yang saat ini cukup familiar. Tetapi jangan menyalahkannya atas semua pekerjaan dan jangan main-main terhadapnya. Menurut situs Google, ia mengorganisasi pegawai tugas malam.

Detik Publishing  Mendukung visi PSSI untuk membawa tim nasional sepak bola Indonesia pada putaran final Piala Dunia 2018, kini telah berdiri Sekolah & Klub Sepak Bola Balomania pada tanggal 31 Agustus 2006 di Jakarta.Tekad manajemen Bolamania adalah akan menjadikan sekolah & klub sepak bola ini menjadi organisasi sepak bola modern bertaraf internasional dengan memberikan pelatihan berkualitas internasional sehingga dapat menghasilkan pemain bertaraf internasional pula. Bolamania akan menggunakan konsep baru dalam pengelolaannya yang diyakini dapat menghasilkan pemain sepak bola profesional yang dapat dibanggakan oleh bangsa dan negara di kemudian hari. Yang dimaksud konsep baru adalah adanya tujuan yang terfokus dan jelas, rencana kerja yang terarah dan terukur, diterapkannya prinsip good governance dengan menggunakan strategi-strategi yang unik untuk mencapai tujuan organisasi.Dalam kegiatan operasionalnya, Bolamania akan bermitra dengan Fakultas Ilmu Keolahragaan – Universitas Negeri Jakarta untuk memenuhi kebutuhan SDM, prasarana dan sarana pelatihan, termasuk penggunaan laboratorium dan pengadaan riset. Dukungan dan komitmen kerjasama telah diberikan pula oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI dan Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta.Kegiatan operasional akan dimulai pada bulan Januari 2007. Perekrutan siswa akan dipublikasikan secara luas melalui media massa. Pada tahap pertama akan direkrut siswa yang berasal dari Jabodetabek berusia 12-14 tahun atau setingkat SMP kelas 1 dan 2, sedangkan pada tahap selanjutnya, Bolamania akan secara rutin setiap tahunnya merekrut siswa berusia 12 tahun atau setingkat SMP kelas 1. Siswa tidak dikenakan biaya apapun, dan seluruh fasilitas yang ada dapat dinikmati siswa secara gratis.Guna mengukur, menciptakan, dan meningkatkan prestasi, maka Bolamania akan secara aktif mengikuti pertandingan / turnamen baik formal maupun informal tingkat daerah, nasional, dan internasional. Pertandingan rutin akan diadakan pada setiap hari Minggu berupa pertandingan persahabatan dengan sekolah SMP / SSB / klub sepak bola se-Jabodetabek. Direncanakan pada setiap Minggu akan diadakan 2-4 kali pertandingan, sehingga dalam satu tahun diperkirakan akan terdapat + 100 pertandingan.Pada tahun 2008 akan didirikan Training Center yang merupakan kelas intensif dengan frekuensi pelatihan 8 kali ditambah dengan 1 kali pertandingan setiap minggunya. Training center ini nantinya diperuntukkan bagi siswa terbaik dari sekolah ini yang telah lulus menjadi siswa SMU, ditambah dengan siswa lainnya dari seluruh Indonesia

. Siswa akan diasramakan hingga menjelang Piala Dunia tahun 2018. Seluruh biaya hidup dan biaya sekolah/kuliah ditanggung oleh organisasi.Untuk memastikan keikutsertaan Indonesia pada putaran final Piala Dunia 2018, manajemen Bolamania mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan bekerjasama guna mensukseskan rencana ini. Saat ini Bolamania sedang mencari penyandang dana yang akan membiayai kegiatannya. Anda berminat untuk ikut menjadi penyandang dananya? atau ingin menyekolahkan kerabat Anda pada Bolamania? Untuk mengetahui lebih jauh profil organisasi ini, silahkan menghubungi Sekretariat Bolamania di Kompleks Pusdiklat DKI Jakarta, Jl. HR.Rasuna Said No.11, Jakarta Selatan 12940 telp. (021) 92727712 atau klik di http://www.bolamania.org/, email: support@bolamania.org

Situs Kau:

Setelah berupaya membela diri dengan beragam argumentasi, akhirnya Presiden Bank Dunia Paul D. Wolfowitz secara resmi harus berhenti dari jabatannya pada 30 Juni 2007. Dugaan skandal Wolfowitz dengan kekasihnya, Shaha Ali Riza, yang dulu juga bekerja di Bank Dunia, dengan menaikkan gaji di atas kewajaran mengakibatkan kredibilitas Wolfowitz dan Bank Dunia runtuh. Kalangan internal Bank Dunia dan negara-negara anggota beramai-ramai memakzulkan Wolfowitz dari jabatan yang sangat prestisius tersebut.

Kasus Wolfowitz itu segera menerbitkan dua hal pokok di Bank Dunia. Pertama, lembaga yang sangat peduli dengan isu korupsi tersebut ternyata juga mengidap patologi serupa. Tubuhnya diselimuti dengan banyak praktik korupsi, dan skandal Wolfowitz hanyalah bagian kecil yang terungkap. Kedua, korupsi yang lebih parah dan sistematis mestinya segera ditelusuri di Bank Dunia, yakni ketidakpeduliaan mereka terhadap kasus “korupsi kebijakan”

Korupsi Kebijakan

Sampai kini tidak ada lembaga multilateral yang paling berpengaruh melebihi institusi Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Kedua lembaga itu merupakan bentukan saat berlangsung Konferensi Bretton Woods seusai Perang Dunia II, dengan tujuan utama merekonstruksi infrastruktur dunia dan membantu pembangunan negara-negara anggota. Menarik untuk dicermati bahwa kedua lembaga ini juga memiliki fungsi lain yang penting, yakni menghadang pengaruh negara-negara sosialis dalam memperluas ide dan sistem ekonominya (Kloby, 1997: 171-172).

Jadi, tidaklah mengherankan bila sejak awal lembaga tersebut sangat getol menyalurkan dana ke negara-negara Dunia Ketiga dengan persyaratan yang lunak (soft loan), yaitu bunga ringan dan tenggat pembayaran (gestation period) yang lama.  Dengan prosedur itu, diharapkan lembaga tersebut bisa memengaruhi negara Dunia Ketiga untuk

Pemerintah Benahi Sistem dan Manajemen Haji Penulis: HamzahFDK, UINJKT Online – Banyaknya pemberitaan media menyangkut kegagalan pengelolaan ibadah haji, direspon positif oleh pemerintah untuk melakukan pembenahan dari segi sistem dan manajemen haji. Pembenahan dilakukan di antaranya perencanaan, pembiayaan, mekanisme pendaftaran, dokumen dan perbekalan haji, dan organisasi penyelenggaraan haji. Direktur Badan Pengelolaan Ibadah Haji (BPIH) Departemen Agama M Abdul Ghafur Jawahir mengatakan, pembenahan sistem dan manajemen haji harus terus disempurnakan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat.Penegasan itu diungkapkan Jawahir pada Seminar dan Training Haji bertema “Peningkatan Propesionalisme Manajemen Haji di era Reformasi” yang di selenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), di teater lt.2 Selasa (1/5). Pembenahan pada sistem perencanaan haji, kata Jawahir, dilakukan dengan mengacu pada hasil laporan Amirul Haji dan Pemantau DPR RI. Selanjutnya, perencanaan dimatangkan bersama BPIH dan DPR RI . Pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji ditentukan berdasarkan standarisasi perhitungan setiap komponen BPIH baikm yang direct cost maupun indirect cost.“biaya-biaya itu mulai tahun ini pengelolaannya di umumkan kepada publik kepada media cetak nasional,” kata Jawahir menambahkan.Sistem pendaftaran dilakukan melalui sistem tabungan yang dilakukan sepanjang tahun pembenahan dalam dokuman perbekalan haji dilakukan dengan cara sistem komputerisasi dan pencetakan paspor dengan security printing. Sementara itu perbaikan dalam organisasi penyelenggaraan haji terdiri dari organisasi permanen seperti Menag RI , BPIH dan non permanen seperti amirul haji PPIH. Upaya perbaikan sistem dan manajemen penyelenggaraan haji mengacu pada UU No 17 tahun 1999 yang terdiri dari sistem BPIH, pendaftaran, pembinaan jemaah, petugas, kesehatan, dokumen dan keimigrasian, transportasi, akomodasi penyelenggaraan ibadah haji dan umroh.

09.05.07

Menyoal Media Plat Merah, “Media” Milik Pemerintah

Posted in media dan kita tagged Ashadi Siregar, McQuail, media massa, media pemerintah, mth, reformasi, SIUPP at 6:47 pm by mthdi tengah makin beragamnya sumber informasi (multy source information), banyak instansi pemerintah yang telah mengembangkan media berita baik dalam bentuk tercetak maupun dalam format elektronik dan multimedia.Reformasi telah mengubah peta kompetisi dan kepemilikan media massa di Indonesia. Sejak keran kebebasan pers dibuka yang diiringi deregulasi di bidang pers dan penyiaran, dunia informasi dan komunikasi serta media massa boleh dikatakan mengalami booming.  Di Indonesia masa lalu hidup dan perkembangan media cetak sulit bisa dibayangkan karena adanya peraturan tentang SIUPP. Izin untuk menerbitkan koran, misalnya, bisa mencapai ratusan juta rupiah, sehingga tak semua pihak memiliki kesempatan untuk menerbikan media cetak.
Di masa ini pula banyak beredar media alternatif yang dikelola masyarakat secara otonom. Di tengah banyak pilihan ragam dan jenis media yang dapat dipergunakan oleh masyarakat, maka informasi pemerintah pun secara logis harus berusaha lebih keras bertarung dalam lalu lintas informasi yang ada, alih-alih harus mampu bersaing dengan media lainnya, agar mendapatkan perhatian masyarakat.
Komoditas Bernama Informasi
Dewasa ini makin disadari bahwa media cetak dan elektronik menjadi komoditas industri yang bernilai ekonomis bagi yang terkait dalam proses media komunikasi. Tren dari pola penyajian isi media pun tidak lagi menganut tatanan jurnalistik yang konservatif, tetapi terobosan-terobosan inovatif dan kreatif dimanfaatkan untuk dapat menarik perhatian segmen. Mengatur posisi berkesesuaian dengan ciri-ciri segmen termasuk tuntunan yang vital.
Kondisi seperti ini mendorong media untuk berkompetisi dengan para kompetitornya dalam merebut setiap pasang mata dari khalayak. Kompetisi media di Indonesia tersebut mendorong pekerja pers nasional mengelola media massa-nya lebih berorientasi pada kepentingan bisnis ketimbang idealisme pers (lihat:  Novel Ali, 1988).
Akibatnya sebagian pers cenderung lebih memprioritaskan pemenuhan selera publik. Bahkan tak jarang  ada beberapa media yang melakukan pelanggaran etika jurnalistik dan tidak memenuhi fungsinya sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa. Hal senada diungkapkan oleh Ashadi Siregar, dalam bukunya Sketsa-sketsa Media Massa :
……Pers memasuki era industri memang benar, jurnalisme masih tetap jadi ratu dunia memang benar. Tetapi dinamika industri ini pulalah yang menempatkan jurnalisme hanya menjadi salah satu komponen dalam manajemen media. Komponen yang lain yang tidak kalah pentingnya adalah marketing dan diatas semuanya : Modal. (Siregar, 1995: 6)
Perubahan orientasi dunia jurnalistik tersebut ditandai dengan adanya ideologi pasar sebagai  agama baru industri media sejak tahun 1990-an. Ideologi ini menjadi amat penting bagi industri pers disaat masyarakat sedang mengalami kebebasan sipil. Argumentasinya adalah pasar memiliki mekanisme sendiri untuk mengatur seleranya.
Bagi para pemilik modal, media massa merupakan sarana bisnis. Sedangkan bagi para komunikator massa, khususnya kalangan wartawan dan karyawan media massa lainnya, media adalah sarana untuk meraih kepuasan profesi. Bagi kalangan masyarakat tertentu, khususnya tokoh pemuka pendapat, media massa merupakan infrastruktur kekuasaan. Adapun dimuatnya kebijakan-kebijakan, perundang-undangan, peraturan-peraturan, merupakan refleksi dari keterlibatan kalangan dominant class. Di lain pihak, kalangan masyarakat umum mengharapkan media massa sebagai alat kontrol sosial dan perubahan.
Besarnya pengaruh media ini disadari oleh banyak pihak, oleh karena itu wajar jika media kemudian menjadi “lahan perebutan” bagi berbagai kelompok untuk menyuarakan kepentingan. Kendati tak kasat mata dan tak terdengar telinga, akan tetapi “perebutan” ini sebenarnya sangat riuh. Sebuah silent war, perang sunyi yang melibatkan seluruh stakeholders media, baik internal maupun eksternal.
McQuail (1998) menggambarkan “silent war” itu. Pihak pemerintah—misalnya—menginginkan agar media berfungsi sebagai sarana pemeliharaan integritas bangsa, sarana pemeliharaan kestabilan politik, dan sebagainya. Pihak khalayak mengharapkan media massa berfungsi sebagai sumber informasi yang terpercaya, sarana pengetahuan dan budaya.
Idealnya memang, media massa yang baik adalah yang dapat mengadopsi kepentingan seluruh stakeholders. Namun harus diakui, di masa sekarang sulit mencapai kondisi ideal semacam itu. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan isi media massa menjadi bias dan berpihak: dalam arti hanya menyuarakan kepentingan kelompok tertentu.
Kendati ditinjau dari ilmu komunikasi keberpihakan media bukanlah sebuah kesalahan, akan tetapi media massa yang memihak akan sulit tumbuh menjadi alat kontrol sosial yang objektif. Makanya tidak aneh, jika berita-berita yang muncul disatu media berbeda dengan media lainnya. Ini lebih karena pilihan-pilihan tersebut. Andai pilihan-pilihan tersebut sama, perbedaan pun masih mungkin lantaran perbedaan dalam memilih sudut pandang (angle) (Siahaan, 2001).
Saat ini belum ada analisa yang representatif mengenai pemihakan media secara memuaskan. Namun dengan lebih banyaknya memunculkan silang pendapat atau berita pendapat, maka media tampaknya masih lebih terpesona pada keahlian bicara ketimbang memiliki kemampuan yang cukup bagi pemaparan dan pengungkapan fakta secara apa adanya. Media masih tergolong asik pada polemik, dan belum pada gairah mengungkap kenyataan untuk menggugah kepedulian bagi upaya memperbaiki keadaan, terutama pada kondisi masyarakat kelas bawah yang memang minim kemampuan mengakses media massa. Itu sebabnya silang pendapat dan polemik umumnya menyangkut kalangan atas atau masyarakat kelas atas, terutama kaum elit politik, praktisi ekonomi terkemuka, para ahli dan kaum akademis yang berdiri di menaranya (Jauhari, 2001)
Media Pemerintah dan Informasi Pemerintah
Saat ini banyak dapat kita saksikan penerbitan tercetak milik pemerintah yang dikelola seperti pers umum, sekalipun tidak banyak yang mengelola secara personal namun di-pihak ketiga-kan, fenomena ini pantas menjadi perhatian sendiri.
Jalalludin Rakhmat (1999) menyatakan sekalipun penyebaran informasi melalui komunikasi interpersonal (face to face) masih banyak dilakukan oleh birokrasi pemerintah, namun pada era sekarang ini trend penyebaran informasi pemerintah lebih sering menggunakan media massa, baik media cetak maupun elektronik. Keberhasilan layanan informasi publik sangat tergantung kepada kemampuan birokrasi dalam memanfaatkan media komunikasi ini.
Dalam literatur komunikasi memang tidak ada secara spesifik yang mengakui media pemerintah sebagai salah satu aktivitas jurnalistik atau pers. Karena pada awalnya, di lingkungan pemerintah dan organiasi lain, penggunaan media massa merupakan bagian dari strategi kehumasan.
Dulunya semasa Orde Baru, dalam rezim pengelolaan SIUPP, tidak ada istilah bagi media yang disebut sebagai penerbitan khusus ini. Jika pun terbit tak perlu repot mengurus perijinan sebagaimana pers umum. Kadang untuk memastikan kelegalan “pers khusus” ini banyak yang mengikutkan  nomor ISSN yang sebenarnya sebagai tanda terbitan berkala yang dicatatat oleh Pusat Data Informasi Ilmiah LIPI. Sebagai bagian dari strategi kehumasan tentunya media pemerintah tidak disebarluaskan secara massal atau diperjualbelikan.
Namun zaman telah berubah, dihapuskannya SIUPP telah terbukti membawa ledakan jumlah media-massa di Indonesia. Persaingan ketatpun terjadi,sehingga memunculkan satu trend penting: media makin tersegmentasi tidak hanya berdasar profil ekonomi-sosial pembaca, tapi juga berdasar hobi/interest dan geografis, simak munculnya media lokal dan komunitas. Dalam ranah media massa cetak, lahir ratusan koran, majalah dan tabloid baru, baik yang berskala nasional maupun lokal. Demikian pula dunia maya (cyberspace), situs-situs bertajuk berita pun bertebaran. Kondisi ini meniscayakan adanya sebuah kondisi bahwa pemerintah tidak lagi monopolistik dalam mengelola informasi dan “mengatur” konten yang disampaikan melalu media massa.
Kebutuhan akan hal ini memang mendorong pemerintah berlomba-lomba mengembangkan media yang sebenarnya diperuntukkan bagi kalangan internal. Jumlah pasti media yang diterbitkan lembaga pemerintah mungkin bisa jadi sebanyak instansi pemerintah yang ada di Indonesia. Terlepas ada instansi yang tak menerbitkan hal ini bisa diperkirakan dengan kompensasi beberapa instansi yang menerbitkan lebih dari satu judul media dalam beragam bentuknya.
Bahkan sekarang situs resmi pemerintah juga menyertakan berita dan artikel yang bisa jadi sekadar ingin dikatakan situsnya up to date

dunia public relation

November 6, 2007

CBN Portal: 

Kesempatan bisa datang kapan saja, dan di mana saja, dalam waktu yang tidak ditentukan. Saat kesempatan itu datang, tinggal diri kita yang harus bisa menggapainya untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Kira-kira seperti itulah gambaran yang bisa Anda dapatkan jika bertemu dengan wanita yang satu ini.
Pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya adalah mengajak pihak ketiga melakukan branding di katalognya. Ini dilakukan dengan sistem win win solution, yaitu pihak ketiga yang beriklan di katalognya bisa masuk ke event-event Sophie Martin yang melakukan fashion show yang sedikitnya dilakukan sebanyak 15-20 kali dalam sebulan. Ini yang harus di maintain oleh Dina sebagai manajer public relation. Ini juga berarti ia banyak bepergian ke luar kota untuk mendatangi fashion show yang diadakan untuk sekedar mensupervisi atau memberikan masukan. Ia pun perlu membuat standarisasi atas fashion show yang dibuat. Sebagai public relation pun ia perlu mempromosikan produknya secara off air dengan pemakaian produk di tv, majalah, atau film.
Apa yang menjadi tujuannya adalah mencoba menghilangkan dan menaikkan image Sophie Martin yang tadinya dari menengah bawah, dengan menekankan bahwa produk Sophie Martin ini memang bermutu, enak dipakai dan harganya terjangkau. Karena itu, kalau ditlik-tilik, kesemua aksesoris wanita modis ini bermerek Sophie Martin, dari mulai tas tangan, dompet sampai aksesoris wanita lainnya.
Dina yang senang bepergian pun, kesenangannya terpenuhi, lihat saja, weekend hampir tak pernah ia di Jakarta. Ketika ditanya apakah ia pernah merasa bosan? Ia pun menjawab, “Bagaimana ya? Soalnya karena saya senang sekali traveling, maka semuanya dijalankan dengan enjoy, apalagi kalau bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.” hampir tak pernah ia mempunyai waktu luang, tapi memang semuanya itu dijalani dengan senang, misalnya saja saat harus pergi mencari ide untuk koleksi baru, ia dengan bahagia berbelanja, meski itu bukan menjadi miliknya nanti, tapi ia senang sekali melakukannya. Kemana pun ia pergi tak lupa disempatkannya bergaya. Meski kelihatan menyenangkan, ia hampir setiap harinya datang jam 7 pagi dan pulang kantor dalam waktu yang tak tentu. “Tak tentu ya, tergantung apakah pekerjaan saya sudah selesai atau tidak. Biasanya hampir selalu saya pulang jam setengah tujuh. Yah, hitung-hitung nunggu macet selesai, ” jelasnya sambil tersenyum.
Ketika ditanya apa yang menjadi targetnya di masa depan, ia menjawanb masih begitu banyak yang harus dipelajari dan dikerjakannya, salah satunya di bidang pendidikan yang menurutnya akan sangat membantu pekerjaannya saat ini. Ia masih ada rencana untuk mengambil kuliah S-2 di bidang komunikasi. “Ini untuk melancarkan keahlian saya di bidang public relation ini. Apalagi makin lama memahaminya, saya makin tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam,” katanya lagi. Dina pun mengakhiri wawancara karena hari itu, ia masih harus sibuk mencari ide untuk event selanjutnya “select couple” yang akan merepresentasikan brand Sophie Martin. Karena itu, jika dilihat, kalau kita mau tekun bekerja dan tahu bagaimana menggunakan kesempatan yang datang, kesuksesan pun bisa diraih, meski bukan berarti keberhasilan didapatkan semudah membalik telapak tangan. Kembali lagi, bekerja keras dan kemauan yang kuat menjadi kuncinya.

IDE HARAPAN DAN KENYATAANSungguh sangat menarik sebuah tulisan disalah satu ,mingguan bahwa “Humas bukan sebagai kameramen atau Fotografer”, bahkan tepat sekali bahwa hubungan masyarakat dengan personilnya tentu akan memacu dan menguasai berbagai informasi yang harus dikonsumsi oleh masyarakat luar, sebagai bentuk akuntabilitas lembaga di dalamnya, seluruh kegiatan personil yang terlibat dalam lembaga tersebut wajib diketahui oleh Humas sebagai lembaga Public Relatian (PR). Lebih lanjut lagi bahwa humas harus memposisikan diri sebagai juru bicara suatu lembaga.Pada dasarnya bahwa humas itu harus mampu berdiri di hadapan tapi jangan menghalangi, harus mampu berdiri di tengah tapi jangan merintangi, dan harus mampu berdiri di belakang tapi jangan sampai membebani. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Teddy Kharsadi 1/12 2004 dalam acara Bakohumas di Bali bahwa paradigma baru meliputi globalisasi, reformasi, otonomi daerah, perubahan ekonomi baru dan Indonesia Baru, Sehingga setiap orang dituntut untuk mampu menghadapi tantangan baru dan tuntunan baru, yaitu hak publik (informasi) dan demokrasi (HAM).

Dengan demikian hambatan terhadap efektivitas humas pemerintah, adalah apatisme publik, sikap negatif, anggaran dan SDM baik dari segi kualitas dan kuantitas. Bahkan dewasa ini humas dituntut menghadapi dan mempunyai fungsi yang beragam. Sedangkan keberadaan humas pemerintah tujuannya adalah menyampaikan informasi sebagai “laporan” kepada masyarakat, mengupayakan kerjasama aktif dan “kepatuhan” masyarakat serta mengembangkan dukungan masyarakat terhadap kebijakan peraturan pemerintah.

Hal tersebut bisa tercapai dengan semestinya manakala humas pemerintah bersikap profesional, yaitu “independensi” yang tinggi, orientasi tanggung jawab kepada masyarakat, pemahaman dan realisasi “etika dan standar” digambarkan oleh Teddy Kharsadi bahwa ada 7 prinsip Ronald Reagan dalam “memanage the news”, yaitu 1. perencanaan, 2. strategi, 3. Kendalikan arus informasi, 4. batasi akses pers kepada Presiden, 5. Sampaikan “hanya” permasalahan yang ingin dibahas, 6. Berbicara satu “suara”, 7. Ulangi pesan yang sama sesering mungkin.

Dalam kenyataannnya masalah-masalah yang sering dihadapi humas untuk menjalin hubungan dengan pers diantaranya “ Bad news is a good news Vs no No news is a good news”, kemudian Good Vs Bad journalists, Dealing with “suprises” too many media. Terlebih-lebih saat ini dengan penerbitan media tanpa harus mempunyai izin, maka banyak media dan mudah menjadi “wartawan”, yang menyedihkan bila media itu koleps wartawan tetap mengaku sebagai “wartawan” , yang lebih parah lagi humas sering dihadapkan pada kenyataan yang riil bahwa hampir seluruh komponen yang mendukung terbitnya sebuah media mengaku sebagai “wartawan” . Padahal bila ditelusuri mereka ada yang seharian sebagai loper, tenaga administrasi, fotografer, redaktur dan ada yang benar-benar sebagai jurnalis profesional. Namun semuanya bila berhadapan dengan dinas/instansi atau narasumber, bahkan kehumaspun mengakunya sebagai wartawan tulen dengan bermodalkan “kartu pers”, lebih parah lagi humas harus membayar Koran yang tidak ada tulisan hasil karyanya, menagih tulisan yang dibuatnya walaupun tidak ada unsur public relationnya, dianggap humas itu sebagai juru bayar “ATM” bahkan “wartawan” sekarang memposisikan diri sebagai “kuli disket”. Padahal jurnalis/wartawan itu adalah profesi yang mulia untuk membesarkan, mencerdaskan, mensejahterakan Bangsa Indonesia di Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini dan mengangkat citra baik di mata dunia.

Telah banyak upaya-upaya untuk melakukan pembinaan terhadap “new comers” di bidang “news”. Tetapi untuk menutupi kelemahannya mereka sering menggertak dengan mengirimkan surat pengaduan kasus kepada instansi yang dianggapnya sebagai upaya “pembredelan” terhadap kebebasan pers dan dianggap menghalang-halangi kebebasan pers.

Namun apabila Infokom tidak mampu berperan dan tidak diperankan oleh pimpinan beserta seluruh stakeholder di bidang pers, bahkan yang dikembangkan sikap mencurigai terhadap kinerja Infokom yang berfungsi sebagai humas dengan harapan bisa memfasilitasi sinergitas kepentingan pemerintah, masyarakat dan industri pers, hanya akan merupakan harapan, angan-angan dan mimpi belaka dan kenyataannya akan terjadi “kesemuan”. “ JANGAN KORBANKAN IDEALISME, MORALITAS, KAIMANAN DAN KETAQWAAN KEPADA ALLAH SWT. HANYA UNTUK KEPENTINGAN SESAAT, INGAT KITA SEMUA AKAN MATI DAN MEMPERTANGGUNG JAWABKAN SEMUA YANG TELAH KITA PERBUAT”. Ya Allah lindungilah kami mahluk yang lemah dan bodoh ini. Amiin Ya Robbal Alamin.Bernas: YANG namanya hobi, apapun akan dilakukan. Karena hobi pula, maka sesuatu yang bagi orang lain mungkin dianggap tidak menarik, bisa jadi akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan oleh mereka yang memang hobi dengan hal itu.
     Pun dalam hal pekerjaan. Ketika sudah hobi, maka mereka yang menggeluti pekerjaan itu akan tetap enjoy dengan pekerjaannya dalam kondisi apapun.

Selain menuntut skill dalam hal relationship, yang bersangkutan juga harus cukup menguasai hal-hal berkait dengan sales, peka terhadap perubahan pasar yang begitu dinamis, serta punya wawasan luas dalam hal telekomunikasi yang juga sangat cepat perkembangannya. 
     Mereka juga mesti running (berpacu) dalam segala hal. Termasuk saat menggelar berbagai program atau event.
“Kalau teman-teman PR hotel suka kerja overtime atau lembur, kami pun juga begitu. Hitung-hitung malah pekerjaan kami tidak lebih ringan. Sebab mesti bisa mengkombinasikan banyak hal mulai program sales atau marketing, program sosial ataupun program membangun citra.   
      Ini semua tidak terpisahkan dan harus dikuasai. Rasanya hanya di kantor pusat saja yang fungsi public relations benar-benar berdiri sendiri, sedangkan kalau di kantor cabang fungsi tersebut hanya sebagian dari tugas seorang ProComm”, paparnya panjang lebar. 
     Tak heran, tugas dan fungsi yang begitu besar, membuat seorang Deasy dan sejawatnya sering harus kerja lembur. Menuntut fisik yang prima serta siap bekerja di bawah tekanan. Kebetulan pula, sebagai perusahaan telekomunikasi, praktis iklim kompetisi dengan perusahaan sejenis juga sangat ketat. 
     “Jadi kami pun harus peka dengan apa yang telah dicapai kompetitor. Begitu terbiasanya mengendus kompetitor, maka saat di perjalanan pun bawaannya ngliatin media-media promo melulu. Pamrihnya cuma satu, gimana bisa berpromosi lebih baik dibandingkan pesaing. Sampai-sampai saya pernah dijuluki mata spanduken. Habis yang diliat spanduk melulu”, ujarnya tertawa. 
     Bukan berarti memungkiri kodrat sebagai seorang wanita, ketika Deasy mengaku tidak suka membeda-bedakan jenis kelamin dalam urusan pekerjaan. Yang ada di benaknya hanya satu, bagaimana tugas dan peran serta fungsinya sebagai seorang ProComm, bisa terlaksana dengan baik, sehingga image perusahaan semakin baik di mata umum. 
     “Di divisi ini memang saya yang paling senior. Saya berusaha membiasakan rekan-rekan untuk tidak membeda-bedakan jenis kelamin dalam urusan tugas dan pekerjaan, karena saya sendiri juga tidak terbiasa seperti itu. Bahkan saat hamil pun, tidak kendur ritme kerja, sehingga tidak jarang justru kawan-kawan yang khawatir bukannya saya”, kata wanita yang tidak suka rutinitas ini

PR writing :Teknik Penulisan Humas (Public Relations Writing) adalah keterampilan menulis (writing skill) khas Humas/PR dalam menghasilkan naskah-naskah yang diperlukan untuk kepentingan pencitraan positif dan popularitas perusahaan/organisasi. Tipe-tipe panulisan atau naskah PR dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Berkaitan dengan Media Relations/Press Relations, seperti naskah press release (siaran pers), advertorial, dan press conference (press kit/media kit).
  2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi perusahaan/organisasi, seperti naskah untuk dipublikasikan di newsletter, in house magazine/Company Magazines, naskah laporan tahunan (annual report), company profile, leaflet, booklet, brosur, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan naskah yang baik (good writing), Humas/PR harus memiliki keterampilan jurnalistik layaknya wartawan, seperti pemahaman tentang nilai berita (news values), bahasa jurnalistik (language of mass communications), kode etik jurnalistik, dan sebagainya.Untuk kepentingan publikasi yang luas, Humas/PR membutuhkan peran media. Karena itu, diperlukan sebuah hubungan yang baik dengan kalangan pers/media massa (Press/Media Relations). Agar hubungan itu tercipta dengan baik, Humas perlu mengenali dunia pers dengan baik pula, seperti karakteristik wartawan, format media, cara kerja wartawan/media, dan sebagainya.Siaran PersSiaran Pers (Press Release, biasa disebut rilis saja) adalah naskah berita (data atau informasi tentang sebuah kegiatan –pra ataupun pasca) yang disampaikan kepada wartawan atau kantor redaksi media untuk dipublikasikan di media tersebut. Dengan demikian, menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan menulis berita seperti dilakukan para wartawan. Oleh karenanya, karakteristik dan struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita.Karakteristik siaran pers adalah memiliki “nilai berita” (news values), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik. Struktur penulisannya pun sama dengan dengan penulisan berita, yakni terdiri dari head (Judul), dateline (baris tanggal), lead (teras berita), dan news body (tubuh atau isi berita). Berita sendiri artinya adalah laporan peristiwa atau peristiwa yang dilaporkan oleh media massa.Kiat menulis siaran pers:

  1. Tulis dengan gaya penulisan berita.
  2. Jangan terlalu panjang – cukup satu lembar.
  3. Langsung ke masalahnya dengan segera.
  4. Penuhi unsur berita 5W+1H.
  5. Berikan lebih dari satu nomor kontak –nomor telpon kantor, kontak pribadi, HP, e-mail, dan fax.
  6. Jika memungkinkan, buatlah usulan mengenai orang-orang yang dapat diwawancara.
  7. Cek/konfirmasi siaran pers yang sudah dikirimkan melaui fax, surat, atau e-mail.
  8. Jika perlu, seratakan ilustrasi foto, tabel, atau grafik atau bahan pendukung lainnya –makalah, naskah pidato, susunan acara, dsb.
  9. Tuliskan pada kertas berkop-surat sehingga benar-benar resmi.
  10. Tandatangani oleh pejabat paling berwenang, misalnya manajer humas, ketua panitia, dan/atau ketua lembaga/perusahaan.
  11. Jika bersifat individu, misalnya artis, pakar, pejabat, ataupun warga biasa, sertakan fotokopi identitas.

Surat PembacaSurat Pembaca (letter to the editor) mirip siaran pers, terutama dalam hal teknis penulisan dan pengiriman. Yang membedakan adalah dalam hal isi dan tujuannya. Isi dan tujuan surat pembaca biasanya merupakan tanggapan, sanggahan, klarifikasi, atau penggunaan Hak Jawab dan Hak Koreksi atas informasi yang dinilai salah dan merugikan. Surat pembaca berupa tanggapan, biasanya diawali dengan mengutip berita atau surat pembaca yang sebelumnya sudah dimuat, sehingga pembaca dapat mengetahui latar belakang masalah yang diklarifikasi.Advertorial (adv)Advertorial = advertising dan editorial. Gabungan antara promosi dan opini atau pemberitaan tentang hal yang dipromosikan –produk, jasa, perusahaan, organisasi, aktivitas, atau program pemerintah. Bentuk tulisannya bisa berupa berita, feature, atau artikel. Advertorial sering disebut iklan dalam bentuk pemberitaan atau tulisan panjang.Jenis advertorial a.l. adv produk, adv jasa, adv perusahaan, dan adv pemerintahan. Sifatnya bisa informatif, eksplanatif, interpretatif, persuasif, argumentatif, dan eksploratif.BrosurBrosur (Brochure) adalah selebaran cetakan satu halaman kertas yang terlipat dua atau lebih, berisi keterangan, informasi, atau gambaran tentang sebuah perusahaan, instansi, produk, atau jasa, atau bisa juga berisi sebuah ide dan kegiatan.Jenis selebaran promosi sejenis brosur adalah booklet, yakni buku kecil tanpa jilid/cover berisi informasi dan gambar tentang suatu produk atau jasa. Bisa juga terdiri dari beberapa lembar kertas sehingga menyerupai buku. Penyebarannya sama dengan brosur, yakni dibagi-bagikan langsung kepada publik.Sarana promosi mirip brosur adalah flyer, pamflet, leaflet, atau poser, yakni lembaran utuh tanpa lipatan/tidak terlipat. Pamflet (ukuran satu halaman kertas print), leaflet (ukuran kertas kecil), dan poster (”surat tempelan”, ukuran kertas besar) disebarkan dengan cara ditempel. Flyer biasanya digantung.Ada juga yang disebut folder. Bentuknya mirip map, namun berisi banyak informasi dan bagian dalamnya terdapat kantung untuk menyimpan aneka berkas seperti surat, brosur, leaflet, kartu nama, dan sebagainya. Folder dapat berfungsi sebagai tempat penyimpan berkas informasi atau promosi.Press Conference/Media KitKonferensi Pers (Press Conference) – undang media untuk menyampaikan informasi, dilakukan tidak rutin, insidental sesuai acara yang digelar, baik sebelum maupun sesudah kegiatan.Media Kit adalah bahan tertulis sehingga kalangan pers memiliki data akurat dan lengkap sebagai bahan berita. Bahan tertulis ini bisa berupa siaran pers, susunan acara, makalah, artikel, feature, bosur, proposal, atau informasi lengkap tentang kegiatan –tujuan, jadwal, target, kepanitiaan, daftar pengisi acara, dsb.—dan dimasukkan dalam sebuah map atau amplop besar.Naskah PidatoNaskah pidato biasanya dilakukan penulis khusus yang disebut scriptwriter. Namun, ada punya petugas humas yang ditugaskan menulisnya. Naskah pidato terdiri dari bagian pembukaan, isi, dan penutup. Ditulis dengan gaya bahasa tutur (spoken words) atau gaya bahasa percakapan (conversational language) karena naskah itu untuk diucapkan, dibacakan, atau disuarakan.NewsletterNewsletter secara harfiyah artinya “laporan berkala” atau “surat berita”. Merupakan media informasi dan komunikasi internal sebuah lembaga, biasanya terdiri dari dua hingga delapan lembar kertas kwarto atau folio, tanpa cover seperti majalah atau buku. Isinya bervariasi mirip majalah, misalnya agenda dan berita kegiatan, artikel, feature, gambar, dsb.In House MagazineIn House Magazine atau Company Magazines adalah majalah internal sebuah lembaga/perusahaan. Desain atau tampilan dan rubrikasinya seperti majalah umum/komersil, namun isinya tentang informasi seputar “dapur” lembaga. Mengelola In House Magazine, juga Newsletter, sama dengan proses manajemen media massa pada umumnya, yakni melalui proses redaksional dan membutuhkan keterampilan meliput dan menulis berita layaknya wartawan.Proses redaksional dimaksud adalah tahapan perencanaan (planing) –penentuan visi, misi, logo, moto, rubrikasi, editorial policy, dan style book; pengorganisasian (organizing) –penetapan susunan organisasi redaksi (pemred hingga reporter dan layouter); pelaksanaan (acting) –aktivitas jurnalistik seperti perencanaan liputan (rencana isi), peliputan, penulisan, editing, dan desain grafis, dan pengawasan (controling) –pengawasan dan evaluasi proses dan hasil kerja yang sudah dilaksanakan.*Referensi:

Public Relation Writing: Pendekatan Teoritis dan Ptaktis. Penulis: Dr. Yosal Irianto & A. Yani Surachman, S.Sos. Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006; Press Relation: Kiat Berhubungan dengan Media Massa. Penulis: Drs. Aceng Abdullah. Penerbit Rosdakarya, Bandung, 2000; Jurnalistik Terapan: Panduan Kewartawanan dan Kepenulisan. Penulis: Asep Syamsul M. Romli. Penerbit Baticpress, Bandung, 2004.

Ssstt, Ada Bisnis Empuk di Arena Politik!Sumber: Majalah Swa Sembada, Maret 2007 04/04/2007 16:00 Sejauh ini jasa survei (riset) termasuk di antara jasa yang paling dibutuhkan para tokoh politik. Terutama sekali untuk memantau reputasi mereka di mata publik. Selain jasa survei, di pentas ini pula berkembang jasa konsultasi pemenangan pemilu, konsultan branding dan public relations (PR). Bahkan, muncul pula bisnis pengerahan massa untuk mendukung atau menolak tokoh politik tertentu, meski untuk yang terakhir ini biasanya dilakukan atas nama kelompok massa tertentu, bukan dengan memakai ”baju” korporat. LSI termasuk salah satu pemain yang paling aktif menggarap bisnis berbau politik ini.Bisnis memang bisa digali di mana saja, termasuk di arena politik. Khususnya bagi mereka yang bergerak di jasa kehumasan (public relations), personal branding, survei (polling), dan semacamnya. Maklum, kini makin banyak saja tokoh yang ingin tampil dalam rangka memperebutkan suara publik. Entah untuk menjadi kepala daerah, anggota legislatif, ataupun jabatan politik lainnya. Kalau dihitung-hitung, bisnis yang bisa digarap memang cukup menggiurkan. Setidaknya bisa dilihat dari jumlah pemilihan langsung di Tanah Air. Ada pemilihan untuk 500 anggota DPR; 33 gubernur, serta sekitar 460 pemilihan untuk jabatan bupati dan wali kota. ”Situasi politik yang berubah kini membawa pasar baru,” kata Denny J.A., pemilik perusahaan riset politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI), mengakui.Bila diamati, sejauh ini jasa survei (riset) termasuk di antara jasa yang paling dibutuhkan para tokoh politik. Terutama sekali untuk memantau reputasi mereka di mata publik. Selain jasa survei, di pentas ini pula berkembang jasa konsultasi pemenangan pemilu, konsultan branding dan public relations (PR). Bahkan, muncul pula bisnis pengerahan massa untuk mendukung atau menolak tokoh politik tertentu, meski untuk yang terakhir ini biasanya dilakukan atas nama kelompok massa tertentu, bukan dengan memakai ”baju” korporat.LSI termasuk salah satu pemain yang paling aktif menggarap bisnis berbau politik ini. Menurut Denny – peraih gelar master dan Ph.D dari Amerika Serikat – LSI memiliki beberapa divisi bisnis. Antara lain Divisi Riset, Divisi Mobilisasi (penggalakan dukungan suara), dan Divisi Public Interest (mengurusi publikasi terkait dengan pencitraan). Sejauh ini dari tiga bisnis LSI, yang paling menonjol adalah bisnis riset politik. Tak heran, iklan LSI di berbagai media cetak umumnya mempromosikan akurasi hasil risetnya untuk berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada).Denny yang awalnya membantu tim pemenangan pemilihan presiden untuk SBY, mengaku memulai usaha dengan modal sekitar Rp 600 juta (belum termasuk pendanaan operasional survei dan gaji karyawan). Setelah membantu SBY, proyek berikutnya adalah membantu Ismeth Abdullah dalam rangka pemilihan Gubernur Kepulauan Riau. Sukses itu terus berlanjut, sehingga sampai sekarang LSI sudah menangani sekitar 200 klien. Saat ini LSI tengah membantu 12 calon gubernur di tahun 2007 dan 2008 (termasuk untuk Fauzi Bowo di DKI Jakarta). Tak heran, dengan bisnisnya yang basah ini LSI mampu menghidupi 16 karyawan tetapnya, ditambah sekitar 300 karyawan freelance di tiap wilayah pemilihan – yang kalau dijumlah keseluruhannya mencapai ribuan.Sebenarnya, cukup banyak perusahaan konsultan lain yang berbisnis seperti LSI. Hanya saja, kiprah dan promosi mereka tak sedahsyat lembaga besutan Denny. Menurut informasi yang diperoleh SWA, perusahaan riset kecil banyak yang melayani klien untuk pemilihan wali kota/bupati yang per proyek nilainya berkisar Rp 75-100 juta. Di samping itu, LSI juga lebih populer karena punya jasa riset perkiraan cepat penghitungan hasil pemilihan yang sudah di-branding bernama QuickCount.Selain lembaga survei, perusahaan yang bergerak di jasa PR juga kecipratan berkah dari euforia politik. Pasalnya, tak sedikit tokoh politik dan mantan petinggi militer yang menggunakan jasa seperti ini ketika mereka terjun ke kancah politik.Wimar Witoelar, pendiri dan pemilik perusahaan PR PT InterMatrix Indonesia, mengakui bisnis mem-branding tokoh politik ini memang berkembang. Hanya saja, ia mengatakan, perusahaannya saat ini tidak menangani proyek seperti itu. ”Dulu, terutama ketika pergantian rezim Soeharto, InterMatrix pernah mem-PR-kan beberapa tokoh politik, seperti Amien Rais dan Arifin Panigoro,” ujar Wimar. Pada kasus Arifin misalnya, waktu itu InterMatrix ditugaskan mengubah citra Arifin dari tokoh bisnis menjadi tokoh politik. Kontrak kerjanya selama tiga bulan, dengan dana 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan klien umumnya. Saat itu, ia menilai hasilnya cukup sukses. Buktinya, perusahaannya kemudian dipercaya untuk membangun citra Megawati di Jawa Barat.Menurut beberapa sumber SWA, diam-diam sejumlah perusahaan PR memang menerima klien-klien politik seperti itu. Banyak di antara klien itu yang merupakan pejabat Orde Baru yang ingin kembali ke pentas politik dengan citra baru. Hanya saja, berbeda dari klien korporat, perusahaan PR umumnya menangani klien politik ini tidak secara terang-terangan. Mungkin ini salah satu kiatnya. Maria Wongsonegoro, Presdir IPM Public Relations, mengakui untuk bisa menjadi konsultan personal branding di bidang politik memang butuh keahlian khusus. ”Selain harus punya pengetahuan kehumasan juga mesti memiliki cukup pengetahuan politik,” katanya. ”Penanganan kehumasan korporasi memang tidak serumit pembentukan citra tokoh politik,” ia menambahkan. Meski begitu, nilai proyeknya lumayan juga kan.

 

dunia broadcasting

November 6, 2007

Internet Broadcasting.

 

Penggunaan teknologi streaming pada Internet broadcasting ini memungkinkan sebuah stasiun radio atau televisi melakukan siarannya menggunakan jalur Internet. Sebenarnya ada dua jenis layanan yang dapat disuguhkan oleh Internet broadcasting ini, yaitu on-demand dan live. Untuk yang on-demand, biasanya adalah broadcasting yang menyiarkan file media yang telah direkam sebelumnya. Stasiun televisi Indonesia yang sudah menggunakan teknologi Internet broadcasting on-demand adalah SCTV. SCTV menyediakan siaran ulang acara berita Liputan 6 yang dapat disaksikan di situs http://www.liputan6.com. Untuk stasiun radio yang on-demand misalnya siaran radio BBC edisi bahasa Indonesia yang dapat didengar di situs http://www.bbc.co.uk/indonesian.

 

Sedangkan Internet broadcasting yang live, atau biasa dikenal pula dengan istilah livecasting, menyiarkan suatu file media saat itu juga ketika suatu kejadian tengah berlangsung (real time). Salah satu stasiun radio Indonesia yang menggunakan teknologi livecasting ini misalnya radio Elshinta Jakarta, yang siarannya dapat didengar melalui situs pnm://elshinta.indosat.net.id/live.ra. Sedangkan untuk stasiun televisi di Indonesia, belum ada yang melakukan livecasting, kecuali untuk satu-dua acara tertentu saja yang sifatnya insidentil. Masalah utamanya adalah pada kesiapan infrastruktur Internet di Indonesia, karena livecasting ini memerlukan jaringan Internet dengan bandwidth dan kecepatan yang memadai.

 

Secara teknis, Internet broadcasting yang menggunakan teknologi streaming ini terbagi atas dua jenis, yaitu unicasting dan multicasting. Terkadang kita rancu antara istilah broadcasting, unicasting dan multicasting.

 

Broadcasting dalam keseharian (non Internet) sebenarnya adalah proses pengiriman data dari satu titik ke banyak titik, seperti kita mengirimkan sebuah e-mail ke mailing-list, setiap titik (anggota mailing-list) mau tidak mau akan menerima e-mail kita. Proses broadcasting ini berlaku pada pemancaran siaran radio atau televisi melalui gelombang udara (frekuensi) tertentu yang sebenarnya semua frekuensi tersebut diterima oleh antena pesawat penerima kita. Tinggal kita memilih frekuensi mana yang akan kita dengarkan (tuning).

 

Sedangkan unicasting adalah proses pengiriman data dari satu titik ke satu titik yang lainnya, dan non real time sebagaimana layaknya layanan dasar berbasis IP. Proses unicasting seperti kita mengirimkan e-mail yang isinya sama secara satu per satu ke rekan kita. Dengan unicasting, sebuah file media yang telah dibuat, kita simpan dahulu di sebuah media penyimpanan. Jika ada pengguna Internet yang ingin menikmati file media tersebut, maka file tersebut akan di-streaming-kan terlebih dahulu oleh sebuah streaming server sebelum disajikan ke komputer pengguna tersebut. Proses penyampaian file media dari media penyimpanan hingga ke komputer pengguna tersebut terjadi berulang-ulang, tergantung berapa banyak orang yang ingin menikmati file tersebut. Untuk itulah maka unicast cocok untuk Internet broadcasting yang non real time dan on-demand.

23/4/2007 01:12:05

Jambore Pramuka se-Dunia

 British Broadcasting Corporation  Lebih dari 40.000 pramuka dari seluruh dunia berkumpul di Jambore Pramuka Sedunia ke-21 yang berlangsung di Hylands Park, Chelmsford, Essex, Inggris timur.

Puluhan ribu pandu dari 151 negara itu saling bertemu dan berinteraksi dalam jambore yang bertema “Satu Dunia, Satu Janji”. Jambore ini dibuka oleh Pangeran William, putra tertua pewaris tahta Inggris, Pangeran Charles dan berlangsung dari tanggal 27 Juli hingga upacara penutupan pada tanggal 8 Agustus.

Jambore Pramuka Se-Dunia diadakan setiap empat tahun, acara tahun ini di Inggris sekaligus memperingati 100 tahun gerakan kepanduan yang didirikan oleh Sir Robert Baden-Powell di Inggris. Para pramuka antara usia 14 hingga 17 tahun melakukan sejumlah kegiatan bertemua kreatifitas, teknologi dan kebudayaan, di enam Desa Dunia tempat.

Beragam Kegiatan

Kontingen Indonesia membuka stand untuk menawarkan kepada para pengunjung untuk belajar membuat wayang kulit serta mencoba permainan tradisional Indonesia. Delegasi lain, seperti Azerbaijan, menampilkan tarian tradisional lengkap dengan kostum dan musik asli negara tersebut dan para pramuka Jepang mengenakan pakaian tradisional mereka.

Peserta juga bisa mengunjungi Desa Pembangunan Dunia, tempat sejumlah lokakarya yang menyelami tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Wakil-wakil dari Indonesia mengajak para pramuka sedunia untuk ikut memikirkan jalan keluar guna mengatasi pemanasan global.

Mereka menayangkan film lingkungan, melakukan diskusi dan mengajak para pandu membuat kertas daur ulang. Pengunjung kemudian diminta menuliskan masukan mereka untuk mengatasi pemanasan global di kertas daur ulang yang mereka buat.

Kontingen Indonesia juga membuka tenda Bencana Alam yang dengan aktif meminta masukan daro para pramuka sedunia tentang cara mengatasi bencana seperti tsunami dan gempa bumi

 ‘Broadcasters play key role in anti-climate change efforts’ Broadcasters have a key responsibility in creating awareness and initiating national and global efforts to tackle climate change, broadcasters attending the ABU Programme Committee meeting in Tehran heard today. Parni Hadi of RRI-Indonesia said that apart from disseminating correct and easy-to-understand information about the effects of global warming to the public, broadcasters should take on a bigger role such as fighting corrupt practices that promote climate change.He also called for more fair trade between countries, especially concerning natural resources, adding that countries that have yet to sign the Kyoto Protocol on climate change should be pressured to do so.“Radio, and the media, must play the role of the provider of correct and easier to understand information about global warming. Journalists must be trained to write in a manner that is easier to understand by the public. “Also, scientists need to be trained on how to express their findings in a less complicated manner,” he said.Jun Ogawa of TBS-Japan shared his organisation’s experience in creating awareness about the dangers of climate change. He said radio was crucial in fighting climate change as it is “a global media with potential to reach every corner of the world”.He said TBS worked together with MBC-Korea to get listeners to shut off their lights for two hours during the summer solstice as an act of solidarity in fighting global warming.“This is not really an appeal to save energy. It is more of an appeal for solidarity& to take action together and think about global warming.”Session moderator, Deborah Steele of Radio Australia, said journalists often ran the risk of unintentional “information bias” in their reporting as by getting both sides of the story, they end up greatly amplifying the views of a small group of sceptics.“Balanced coverage does not always mean accurate coverage. In terms of the global warming story, ‘balance’ may allow sceptics - many of them funded by carbon-based industry interests - to be frequently consulted and quoted in news reports on climate change,” she said.

Qualcomm untuk Jajaki Bisnis Baru dalam “Mobile Broadcasting”
Pengembang teknologi CDMA Qualcomm Incorporated bekerja sama dengan PCCW Limited, penyedia layanan komunikasi di
Hong Kong. Keduanya telah menandatangani perjanjian untuk melakukan uji coba teknis teknologi MediaFLO milik Qualcomm di Hong Kong. Uji coba teknis ini berlangsung dari tanggal 14 Mei hingga 13 November 2007, bertujuan mengetahui kemampuan kinerja MediaFLO handset bagi jaringan Now TV PCCW.
Selain itu, juga ada kesempatan PCCW untuk uji coba bisnis model layanan mobile television komersial berbasis MediaFLO yang potensial–sebuah teknologi mobile broadcasting yang terbuka–jika layanan seperti itu akan diluncurkan di Hong Kong.
Perjanjian ini ditandatangani PCCW-HKT Telephone Limited, anak perusahaan milik PCCW Limited. PCCW yang meluncurkan Now TV-nya yang sukses pada September 2003. Now TV adalah IPTV terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 80.000 pelanggan di Hong Kong dan menghadirkan lebih dari 130 channel berkelas dunia. PCCW memiliki quadruple-play platform serta merupakan penyedia terkemuka bagi beragam pilihan untuk konten, programming, dan layanan broadband interaktif, fixed line, mobile, dan TV.
“Kami saat ini berada di depan pada layanan multimedia interaktif dan melihat mobile TV sebagai pengembangan layanan kami,” kata Paul Berriman, CTO PCCW. “Pasar Hong Kong telah siap mengadopsi layanan seperti ini yang merupakan pelengkap bagi layanan multimedia interaktif berbasis 3G kami dan kami ingin menawarkan solusi yang terbaik untuk pelanggan kami.” MediaFLO sukses dalam uji coba baru-baru ini dan menjanjikan pengalaman pengguna menarik yang berpotensi untuk diadopsi secara luas di
Hong Kong. Uji coba teknis ini akan mengevaluasi model bisnis kami dan content line-up untuk pengembangan integrasi layanan yang tepat untuk menghadirkan mobile broadcast dan TV interaktif masa depan.”

Inovasi
Teknologi FLO, inovasi teknologi broadcast dan komponen utama MediaFLO System, adalah teknologi air interface global yang diakui dengan beragam spesifikasi teknis yang telah diratifikasi oleh Telecommunication Industry Association (TIA). Selain itu, International Telecommunication Union–Radiocommunication Sector (ITU-R), baru-baru ini mengakui FLO sebagai teknologi yang direkomendasikan ITU-R untuk multimedia broadcasting dan aplikasi data untuk mobile reception serta perangkat genggam. Air interface FLO dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan jangkauan sekaligus menghemat biaya pengiriman konten pada perangkat bergerak.
Komitmen QUALCOMM terhadap pasar Asia ditekankan dengan pengembangan lainnya yang baru-baru ini dilakukan di wilayah ini. China Network Systems dan Taiwan Television Media saat ini melakukan uji coba teknis MediaFLO di Taiwan. Di Jepang, QUALCOMM telah mendirikan sebuah joint venture dengan KDDI yang disebut MediaFLO Japan Planning Incorporated dan Softbank telah mendirikan Mobile Media Planning Corporation. Kedua perusahaan telah didirikan untuk menjajaki penggunaan layanan MediaFLO di seluruh negeri.
Dirancang secara khusus untuk lingkungan mobile, teknologi MediaFLO bertujuan untuk secara bersama-sama menghadirkan manfaat teknologi mobile broadcast termasuk video dan audio berkualitas tinggi, channel switching time yang lebih cepat, mobile reception yang lebih baik, konsumsi tenaga yang lebih optimal, dan kapasitas yang lebih besar dibandingkan dengan teknologi mobile broadcast lainnya
 

. Jakarta Broadcasting School

Booming Industri televisi di Indonesia, yang ditengarai kehadiran 10 televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, Trans TV, Metro TV, TV7, Lativi dan Global TV) dan menjamurnya televisi lokal/regional (JTV, Riau TV, Bali TV, dll) seiring dengan makin menguatnya wacana otonomi daerah, telah melahirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan di negeri ini untuk menyediakan tenaga – tenaga profesional di bidang broadcasting. Bagaimanapun harus diakui bahwa booming industri televisi di Indonesia tidak dibarengi dengan tersedianya tenaga kerja siap pakai. Adalah tanggung jawab kampus untuk menjawab tantangan dan peluang ini.Universitas Budi Luhur dengan bangga dan penuh dedikasi membuka beberapa program pendidikan dan pelatihan di bidang broadcasting (televisi dan radio) untuk menjawab antusiasme masyarakat untuk terlibat aktif di dunia penyiaran yang sarat dengan teknologi dan idealisme.Dengan pengalaman puluhan tahun di bidang pendidikan, didukung oleh para pengajar dan instruktur profesional dari televisi/radio dari dalam dan luar negeri, Jakarta Broadcasting School adalah sebuah pilihan yang tepat bagi generasi muda Indonesia yang ingin terjun ke dunia broadcasting yang gemerlap dan penuh tantangan.Jakarta Broadcasting School juga akan menjalin kerjasama dengan pelbagai lembaga penyiaran di dalam dan luar negeri untuk penyelenggaraan program diklat, maupun kesempatan magang bagi peserta/mahasiswa.Jakarta Broadcasting School, The Real Way to be The Real Broacaster  

1st posting

October 29, 2007

j0099145.jpg

Hello world!

October 29, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.